Jumat, 13 Maret 2026

Tadarus Keliling ( Darling ) MIN 2 Gresik

 Tadarus Keliling ( Darling ) MIN 2 Gresik



Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan serta menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, keluarga besar MIN 2 Gresik melaksanakan kegiatan Tadarus Keliling (Darling) yang bertempat di Masjid Nurul Yaqin Dusun Karangploso Desa Klampok Benjeng Gresik. Kegiatan ini diikuti oleh para guru dan tenaga kependidikan MIN 2 Gresik dengan penuh semangat dan kekhusyukan. Kamis (26/2/26)

Program Tadarus Keliling ini merupakan salah satu agenda rutin MIN 2 Gresik selama bulan Ramadhan. Selain bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah antara keluarga besar madrasah dengan masyarakat sekitar. 



Kepala MIN 2 Gresik, Sugito,  menyampaikan bahwa kegiatan Darling diharapkan mampu menjadi motivasi bagi seluruh warga madrasah untuk senantiasa membiasakan diri membaca Al-Qur’an, tidak hanya di bulan Ramadhan tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.


Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, serta kecintaan terhadap Al-Qur’an semakin tumbuh di lingkungan MIN 2 Gresik dan masyarakat sekitar. Semoga kegiatan Tadarus Keliling ini membawa keberkahan dan menjadi amal ibadah yang diterima oleh Allah SWT.



Kamis, 12 Maret 2026

MIN 2 Gresik Berbagi Keberkahan di Bulan Ramadan

 MIN 2 Gresik Berbagi Keberkahan di Bulan Ramadan


    Bulan ramadan adalah waktu yang istimewa bagi umat islam untuk memperbanyak ibadah, memperkuat kepedulian, dan menebar kebaikan. Dalam rangka itu, MIN 2 Gresik mengelar kegiatan berbagi keberkahan di bulan Ramadan, Kamis (12/3/2026).

   


 Kegiatan ini melibatkan guru, tenaga kependidikan, serta siswa dalam program infaq Ramadan. Seluruh unsur madrasah antusias berpartisipasi dalam mendukung program MIN 2 Gresik berbagi. Kegiatan MIN 2 Berbagi merupak kegiatan berbagi kepada anak yatim dan dhuafa. Kegiatan ini tidak hanya sekedar berbagi materi, kegiatan ini menjadi sarana untuk menumbuhkan empati, rasa syukur dan kebersamaan di lingkungan madrasah.

    “MIN 2 Gresik berharap dapat menanamkan nilai nilai keikhlasan dan kepedulian sosial kepada peserta didik sejak dini. Berbagi tidak sekedar memberi, tetapi tentang menumbuhkan kasih sayang dan mempererat silaturahmi. Semoga semangat Ramadan ini terus menyala dan menjadi menginspirasi untuk berbuat baik sepanjang waktu” ungkap Sugito Kepala MIN 2 Gresik. (Telisik Hati)

Strategi Implementasi Edukasi Gizi melalui Makan Bergizi Gratis di Madrasah

 

Strategi Implementasi  Edukasi Gizi  melalui Makan Bergizi Gratis di Madrasah

Oleh. Sugito, S.Pd

MIN 2 Gresik Jawa Timur

 

                Pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul merupakan kunci bagi kemajuan suatu bangsa. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan hal ini sebagai prioritas utama dalam mewujudkan visi Indonesia yang maju, mandiri, dan berkeadilan. Salah satu program andalan yang dirancang untuk mendukung agenda tersebut adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

            Program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan nutrisi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan, tetapi juga memiliki korelasi erat dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan juga pemberdayaan ekonomi di daerah dengan akumulasi perputaran uang beredar di daerah dan pertumbuhan ekonomi inklusif.

           


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah strategis dalam mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dengan memastikan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat  dengan baik dan berkualitas.  Kualitas pangan dan gizi merupakan kunci utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul.

Kualitas sumber daya manusia sangat ditentukan oleh kesehatan dan kecukupan gizi sejak usia dini. Di Indonesia, masalah kekurangan gizi, stunting, anemia, serta ketidakcukupan asupan harian masih menjadi tantangan yang signifikan. Data nasional menunjukkan bahwa sebagian anak usia sekolah dan remaja masih belum mendapatkan asupan makanan bergizi seimbang akibat keterbatasan ekonomi keluarga, kurangnya edukasi gizi, serta akses yang tidak merata terhadap bahan pangan berkualitas.

Situasi ini berdampak langsung pada konsentrasi belajar, prestasi akademik, serta perkembangan fisik dan kognitif anak. Anak yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar atau kekurangan gizi cenderung mengalami kelelahan, sulit fokus, bahkan rentan mengalami gangguan kesehatan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas pendidikan dan produktivitas generasi mendatang

Peningkatan Edukasi Gizi di Madrasah

Edukasi gizi merupakan  upaya sistematis untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat mengenai pemilihan, pengolahan, dan konsumsi makanan yang sehat. Tujuannya adalah mencegah masalah gizi seperti stunting, gizi kurang, obesitas, anemia, dan penyakit tidak menular.


Peningkatan edukasi di madrasah diantaranya: Pertama, membangun kesadaran gizi sejak dini. Madrasah  perlu menanamkan kesadaran gizi sejak usia dini agar siswa memahami hubungan antara makanan dan kesehatan. Guru dapat mengajarkan nilai gizi melalui contoh nyata, seperti mengenalkan jenis makanan yang baik bagi tubuh dan menjelaskan fungsi nutrisi utama. Kegiatan ini mendorong siswa mengenali pilihan makanan sehat secara alami tanpa paksaan.

Kedua, Mengaktifkan Peran Guru dan Tenaga Gizi madrasah. Guru dan tenaga gizi sekolah memegang peran penting dalam menyukseskan integrasi gizi. Mereka perlu bekerja sama secara sinergis agar pembelajaran berlangsung efektif dan menarik. Guru menyampaikan konsep pendidikan, sedangkan tenaga gizi memberikan pengetahuan praktis tentang pola makan seimbang. Dengan sinergi guru dan ahli gizi, pembelajaran tidak berhenti di kelas. Sekolah dapat mengadakan pameran makanan sehat atau hari gizi nasional sebagai ajang kreativitas dan promosi pola hidup sehat.

Ketiga, Mengembangkan Kurikulum Inovatif dan Kontekstual. Madrasah perlu merancang kurikulum yang inovatif agar pembelajaran gizi berjalan menarik. Kurikulum yang baik harus menyesuaikan kebutuhan lokal dan karakteristik siswa. Kurikulum inovatif juga mengajak siswa berpikir kritis tentang isu gizi di masyarakat. Mereka dapat menganalisis kebiasaan makan di lingkungannya dan mencari solusi untuk meningkatkan kesadaran gizi keluarga. Dengan demikian,madrasah berperan aktif dalam membangun masyarakat yang sehat dan berpengetahuan.

Keempat, Menjalin Kolaborasi dengan Pihak Eksternal. Kolaborasi dengan pihak eksternal memperkuat program integrasi gizi di madrasah. Madrasah dapat menggandeng puskesmas, dinas kesehatan, dan lembaga swasta untuk mendukung kegiatan edukatif. Setiap mitra berperan dalam memberikan edukasi, menyediakan bahan ajar, atau mengadakan pelatihan bagi guru dan siswa. Kerjasama eksternal menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial. Siswa belajar bahwa menjaga kesehatan bukan hanya urusan individu, tetapi juga tugas bersama dalam menciptakan masyarakat yang kuat dan produktif.

Strategi Implementasi Edukasi Gizi Lewat Makan Bergizi Gratis

Pemenuhan gizi seimbang sejak usia dini merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan pembentukan pola hidup sehat. Namun, berbagai survei menunjukkan bahwa masih banyak anak Indonesia yang mengalami kekurangan gizi, kelebihan berat badan, atau memiliki kebiasaan makan yang kurang sehat akibat keterbatasan pengetahuan gizi, akses pangan bergizi, maupun lingkungan makan yang kurang mendukung. Untuk mengatasi tantangan tersebut, program Makan Bergizi Gratis hadir sebagai salah satu upaya strategis pemerintah dalam meningkatkan status gizi anak melalui penyediaan makanan sehat sekaligus mendorong edukasi gizi yang berkelanjutan.

                Madrasah perlu mengintegrasikan edukasi gizi ke dalam empat kegiatan utama berikut: Pertama. Kegiatan Intrakurikuler. materi tentang gizi dapat terintegrasi di berbagai  mata Pelajaran sesuai dengan jenjang Pendidikan mulai Paud, TK/RA, MI/SD, SMP/MTs dan MA/SMA/SMK.

Kedua, Kegiatan Ko-Kurikuler. Ko-kurikuler bisa menjadi sarana praktik untuk memperkuat pengetahuan yang dipelajari di kelas. Contoh penerapan: mengadakan lomba menu sehat antar kelas, workshop bersama ahli gizi atau petugas puskesmas, pameran gizi dengan poster edukasi yang dibuat siswa.

Ketiga, Kegiatan Ekstrakurikuler. Ekstrakurikuler menjadi ruang kreativitas untuk mengasah minat dan keterampilan siswa. Contoh kegiatanmya: klub Kesehatan yang mengelola kebun madrasah dan membuat jurnal gizi mingguan, Ekstrakurikuler memasak sederhana dengan resep sehat, Kegiatan jurnalistik yang mengulas “Menu Sehat Minggu Ini” di mading sekolah.

Keempat, Pembiasaan Harian. Pembiasaan adalah kunci membentuk karakter sehat. Beberapa langkah sederhana yang bisa madrasah lakukan, antara lain: membiasakan cuci tangan sebelum makan, menyediakan buah lokal sebagai camilan pagi, menyisipkan doa dan pesan gizi dalam rutinitas harian, mendorong siswa membawa bekal sehat dari rumah setiap Jumat. Kegiatan pembiasaan dapat dilakukan dengan cara membimbing siswa secara konsisten melalui contoh langsung, pengawasan guru,  dan penggunaan media edukatif yang menarik. Contoh kegiatan pembiasaan  cuci tangan pakai sabun, aktivitas di luar jam  sekolah, penimbangan berat badan rutin, kantin sehat, makan harus dihabiskan, pemilihan sampah organic dan non organic, zero waste.

Integrasi gizi dan kurikulum menciptakan sinergi kuat antara pendidikan dan kesehatan. Madrasah yang menggabungkan pembelajaran gizi dengan kegiatan belajar mengajar membentuk generasi yang cerdas, sehat, dan berkarakter. Guru tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga mengajak siswa memahami pentingnya makanan bergizi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan aktif dan kolaboratif, pembelajaran terasa lebih hidup dan relevan dengan kebutuhan siswa.

            Integrasi gizi dan kurikulum menciptakan lingkungan belajar yang edukatif, inovatif, dan kolaboratif. Madrasah yang menerapkan sistem ini menumbuhkan siswa yang memahami pentingnya makanan bergizi dan gaya hidup sehat. Guru, tenaga gizi, dan orang tua bekerja bersama membentuk kebiasaan positif yang bertahan seumur hidup.

Implementasi Program Makan Bergizi Gratis di madrasah memberikan dampak positif bagi peningkatan kesehatan, konsentrasi belajar, dan kesejahteraan peserta didik. Program ini berhasil memperkuat akses siswa terhadap makanan yang aman dan bergizi, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Melalui sinergi antara madrasah, orang tua, pemerintah, dan tenaga kesehatan, distribusi makanan dapat berjalan lebih tertib, higienis, serta sesuai standar gizi yang dianjurkan.

Selain meningkatkan status gizi dan mencegah masalah seperti anemia atau kurang energi kronis, program ini juga mendorong terbentuknya kebiasaan makan sehat sejak dini. Dukungan dari fasilitas madrasah seperti kantin sehat, dapur higienis, serta edukasi gizi menjadikan program tidak hanya sekadar pemberian makanan, tetapi juga sarana pembelajaran penting bagi peserta didik mengenai pola hidup sehat.

Keberhasilan jangka panjang tetap membutuhkan pengawasan kualitas makanan, perencanaan anggaran yang berkelanjutan, peningkatan kapasitas petugas penyelenggara, serta evaluasi berkala untuk memastikan bahwa program terus relevan dan efektif. Dengan komitmen bersama, Program Makan Bergizi Gratis dapat menjadi Pondasi kuat dalam menciptakan generasi madrasah yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.

Integrasi Gizi dengan Mata Pelajaran di Madrasah

Guru dapat menyisipkan materi gizi di berbagai mata pelajaran agar siswa memahami manfaatnya secara kontekstual. Dalam pelajaran matematika, siswa bisa menghitung kalori dan kebutuhan energi harian. Dalam sains, mereka belajar tentang fungsi vitamin dan mineral. Di pelajaran bahasa, siswa menulis teks persuasif tentang pentingnya sarapan sehat.

Pendekatan ini membuat pembelajaran terasa nyata dan bermakna. Siswa tidak hanya menghafal, tetapi juga menerapkan pengetahuan dalam kehidupan. Mereka menghubungkan konsep gizi dengan pengalaman sehari-hari, seperti memilih makanan di kantin atau membantu orang tua menyiapkan bekal.

Integrasi ini juga mendorong guru berpikir kreatif. Mereka dapat mengembangkan modul pembelajaran tematik yang menggabungkan aspek gizi dengan kompetensi dasar. Dengan cara ini, kurikulum menjadi lebih dinamis dan berorientasi pada kebutuhan siswa.

Integrasi Gizi dengan mata Pelajaran  di Madrasah, Pertama, Mata Pelajaran Bahasa Indonesia  diantaranya  Menulis teks eksplanasi: “Mengapa sarapan itu penting?”. Membuat poster kampanye gizi kelas, Membaca artikel tentang kesehatan lalu membuat rangkuman atau argumentasi. Membaca teks tentang makanan sehat.

Kedua, Integrasi Pendidikan  Gizi dengan Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) diantaranya: mengajarkan  menjaga kesehatan sebagai bagian dari ibadah: mengaitkan gizi seimbang dengan perintah memelihara tubuh (hifz an-nafs), Hadis tentang makanan halal dan thayyib sebagai dasar memilih pangan bergizi, Proyek: membuat mind map “makanan halal, bersih, dan menyehatkan”.

Ketiga, Integrasi Pendidikan  Gizi dengan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) diantaranya :  memasukkan konsep zat gizi, fungsi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air, Praktik: membaca label gizi pada kemasan, membuat menu seimbang, atau uji makanan sederhana,  Pembelajaran sistem pencernaan dikaitkan dengan kebiasaan makan sehat.

Keempat , Integrasi Pendidikan  Gizi dengan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  (IPS) diantaranya : mempelajari ketahanan pangan, distribusi bahan makanan, dan ekonomi pangan local, diskusi tentang faktor sosial yang mempengaruhi pola makan Masyarakat, studi lapangan ke pasar untuk mengenal bahan pangan sehat dan harga.

Kelima , Integrasi Pendidikan  Gizi dengan Mata Pelajaran matematika diantaranya: menghitung kebutuhan kalori harian berdasarkan usia, berat badan, dan aktivitas, Membuat diagram konsumsi buah/sayur siswa per minggu, Latihan operasi hitung menggunakan contoh label gizi (misal 1 porsi mengandung 120 kalori).

Keenam, Integrasi Pendidikan  Gizi dengan Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani,  olahraga dan Kesehatan (PJOK) diantaranya: mengaitkan aktivitas fisik dengan kebutuhan energi dan pola makan sehat, Menekankan pentingnya cairan tubuh, pencegahan obesitas, dan pemilihan camilan sehat, Program: food diary + activity tracker mingguan.

Ketujuh, Integrasi Pendidikan  Gizi dengan Mata Pelajaran Prakraya diantaranya: Praktik membuat makanan sehat sederhana dari bahan local, Kegiatan kebun sekolah: menanam sayuran dan menghubungkannya dengan edukasi gizi, desain kemasan makanan sehat buatan siswa.

Kedelapan, Integrasi Pendidikan  Gizi dengan Mata Pelajaran Prakraya diantaranya: Kosakata makanan, minuman, dan Kesehatan, membuat dialog sederhana tentang kebiasaan makan sehat,

Gizi yang baik merupakan  fondasi utama perkembangan fisik dan mental anak. Banyak siswa madrasah masih terbiasa mengonsumsi makanan instan, tinggi gula, atau rendah gizi, yang berdampak negatif pada kesehatan dan konsentrasi belajar. Di sinilah peran madrasah menjadi sangat penting. Lembaga pendidikan tidak hanya bertanggung jawab mengajarkan ilmu akademik, tetapi juga menanamkan kebiasaan hidup sehat. Melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), siswa tidak hanya menerima makanan sehat, tetapi juga memahami mengapa gizi seimbang penting untuk prestasi dan masa depan mereka.

Mendorong Partisipasi Orang Tua dalam Pendidikan Gizi

Orang tua memiliki peran besar dalam memperkuat kebiasaan gizi sehat di rumah. Madrasah dapat melibatkan mereka melalui program sosialisasi, pelatihan memasak, atau lomba menu keluarga sehat. Kolaborasi ini menyatukan nilai gizi antara madrasah dan rumah tangga.

Dengan keterlibatan orang tua, anak memperoleh dukungan penuh untuk menerapkan kebiasaan makan sehat. Orang tua menjadi contoh nyata dalam memilih makanan bergizi dan membiasakan pola makan teratur. Kebiasaan baik ini menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Komunikasi dua arah antara guru dan orang tua juga mempercepat perubahan perilaku. Ketika kedua pihak bekerja sama, anak merasa lebih termotivasi dan bertanggung jawab terhadap kesehatan dirinya.

Strategi implementasi edukasi gizi melalui program Makan Bergizi Gratis merupakan pendekatan komprehensif yang tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan sehat, tetapi juga pada pembentukan perilaku makan yang berkelanjutan. Edukasi gizi yang terintegrasi dengan kegiatan madrasah, didukung oleh guru, tenaga kesehatan, orang tua, dan komunitas, mampu meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai pentingnya makanan bergizi serta mendorong mereka untuk menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan implementasi strategi ini sangat ditentukan oleh koordinasi lintas sektor, ketersediaan sumber daya yang memadai, serta upaya monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan. Ketika edukasi gizi dilakukan secara konsisten dan didukung oleh lingkungan sekolah yang sehat, program Makan Bergizi Gratis tidak hanya meningkatkan status gizi anak, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan konsentrasi belajar, kesehatan jangka panjang, dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

 

 


Integrasi Kurikulum Cinta dan Deep Learning

 

Integrasi Kurikulum Cinta dan Deep Learning

Oleh. Sugito, S.Pd

Kepala MIN 2 Gresik 

 

           

        Di tengah arus globalisasi dan kompleksitas tantangan sosial-psikologis pelajar, pendidikan nasional menghadapi kebutuhan mendesak untuk mengedepankan pendekatan yang memanusiakan peserta didik. Pendekatan yang hanya berfokus pada kognitif terbukti belum cukup membentuk generasi yang berempati, bertanggung jawab, dan sadar lingkungan.

           


Kurikulum Cinta adalah konsep pendidikan yang dicanangkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai cinta kasih, toleransi, dan harmoni sejak dini dalam sistem pendidikan. Kurikulum ini menekankan pentingnya pendidikan yang berbasis kasih sayang, empati, dan penghargaan terhadap perbedaan, serta menumbuhkan sikap peduli terhadap lingkungan dan bangsa.

            Kurikulum Cinta merupakan pendekatan pendidikan yang menanamkan nilai-nilai cinta kasih, toleransi, dan harmoni sejak usia dini. Kurikulum ini bertujuan untuk menciptakan individu yang menjunjung tinggi kebersamaan, empati, dan penghargaan terhadap perbedaan, serta mampu menghindari potensi konflik sosia.

            Implementasi kurikulum cinta juga merupakan respons terhadap berbagai tantangan sosial, seperti meningkatnya intoleransi, konflik berbasis agama, dan melemahnya nilai-nilai moral di kalangan generasi muda. Kemenag memahami bahwa kurikulum cinta adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan damai.

Menanamkan nilai cinta dalam pendidikan merupakan bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik yang berakhlak mulia, memiliki empati, dan mampu membangun hubungan harmonis dengan sesama. Pendidikan yang hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan tanpa menanamkan nilai-nilai cinta dan kasih sayang cenderung menghasilkan individu yang kurang memiliki sensitivitas sosial. Oleh karena itu, konsep kurikulum cinta sebagai pendekatan dalam sistem pendidikan, terutama di lembaga pendidikan berbasis Islam seperti Raudhatul Athfal hingga Madrasah Aliyah.

 

 

Aspek kurikulum berbasis Cinta


Aspek kurikulum berbasis Cinta meliputi: Pertama, Cinta kepada Tuhan (Hablum Minallah). Aspek ini menekankan pentingnya membangun hubungan spiritual yang kuat dengan Tuhan, melalui ibadah, doa, dan belajar tentang ajaran agama.

Kedua, Cinta kepada sesama manusia (Hablum Minannas).  Aspek ini mendorong peserta didik untuk menanamkan sikap toleransi, empati, dan kepedulian terhadap semua orang, tanpa memandang agama, suku, atau latar belakang.

Ketiga, Cinta kepada lingkungan (Hablum Bi'ah). Aspek ini menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam, seperti mengurangi sampah, menjaga kebersihan, dan menghargai sumber daya alam.

Keempat, Cinta kepada bangsa (Hubbul Wathan). Aspek ini mengajarkan peserta didik untuk mencintai dan bangga terhadap bangsa dan negara, termasuk menghargai budaya, sejarah, dan nilai-nilai nasional. 

Konsep kurikulum cinta merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan pentingnya nilai kasih sayang, empati, dan kepedulian dalam seluruh aspek pembelajaran. Kurikulum ini tidak hanya mengajarkan aspek kognitif tetapi juga membentuk aspek afektif dan psikomotorik peserta didik agar mereka tumbuh menjadi individu yang penuh cinta terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungannya. Implementasi kurikulum cinta dapat diwujudkan melalui berbagai metode, seperti pembelajaran berbasis keteladanan, pembiasaan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari, serta pendekatan spiritual yang lebih mendalam melalui kegiatan keagamaan.


Di jenjang Raudhatul Athfal, penanaman nilai cinta dilakukan dengan cara yang lebih sederhana namun sangat efektif, seperti menanamkan kebiasaan berbagi, menghormati orang tua dan guru, serta mencintai lingkungan melalui kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Program tahfidz Al-Qur'an misalnya, bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan hafalan, tetapi juga untuk menanamkan kecintaan terhadap ajaran Islam sejak dini. Selain itu, nilai cinta juga ditanamkan melalui keteladanan para guru yang berperan sebagai figur yang memberikan kasih sayang dan perhatian kepada peserta didik.

 Pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Aliyah, implementasi kurikulum cinta semakin diperkuat dengan pendekatan yang lebih luas. Dalam konteks Kurikulum Merdeka yang saat ini diterapkan di Indonesia, pendidik memiliki fleksibilitas dalam mengembangkan materi ajar yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan peserta didik. Kurikulum ini juga menekankan pendidikan berbasis karakter, sehingga nilai cinta dapat terintegrasi dalam setiap aspek pembelajaran. Misalnya, dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, nilai cinta dapat dikembangkan melalui diskusi dan refleksi tentang bagaimana Islam mengajarkan kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama. Selain itu, pembelajaran berbasis proyek yang menuntut kerja sama antar siswa juga dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan rasa saling menghargai dan peduli.

Integrasi Kurikulum Cinta dan Deep Learning merupakan  jawaban strategis atas kebutuhan pendidikan bermutu dan berdaya saing untuk masa depan Indonesia. Penerapan dalam lesson plan, implementasi, dan asesmen harus menekankan aspek kesadaran, makna, dan kegembiraan dalam belajar.

Aspek emosi yang dikembangkan dalam kurikulum cinta yang akan mendorong diri seseorang untuk memjadi diri yang memiliki sikap kasih sayang yaitu: Pertama, Nurani,  hati nurani memiliki dua sisi yaitu, sisi kognitif dan sisi emosional, sisi kognitif yang menuntut seseorang kedalam hal yang benar, sedangkan sisi emosional menjadikan seseorang merasa wajib untuk melakukan hal yang benar.  

Kedua, percaya diri. Bila seseorang memiliki harga diri atau percaya diri yang sehat, maka ia dapat menghargai diri sendiri. Dan jika seseorang dapat menghargai dirinya sendiri maka ia juga akan menghormati orang lain. Namun, demikian harus diingat bahwa penghargaan diri yang tinggi tidak menjamin terbentuknya karakter yang baik, karena tidak semua penghargaan diri atau percaya diri yang tinggi datang dari karakter yang baik, percaya diri juga bisa tumbuh dari, harta kekayaan, kondisi fisik, popularitas atau kekuasaan.

Ketiga, merasakan penderitaan orang lain. Adalah kemampuan mengenali, atau merasakan, keadaan yang tenagh dialami orang lain. Empati memungkinkan kita keluar dari diri kita dan masuk ke dalam diri orang lain.

Keempat, mencintai kebenaran. Ciri lain dari bentuk kasih sayang yang tertinggi adalah perasaan murni yang tidak dibuat-buat dalam kebaikan. Kebiasaan berbuat baik atau kecintaan anak dalam berbuat baik, akan mengalir begitu saja, bukan dibuat-buat atau terpaksa, anak merasa senang dengan kebaikan dan benci dengan keburukan.

Kelima, mampu mengontrol diri. Emosi dapat menghanyutkan akal. Oleh karena itu kontrol diri merupakan salah satu dari pekerti moral yang lahir dari sikap kasih sayang yang dapat mempertahankan akal sehat anak agar tidak terjebak dalam kejahatan.

Implementasi Kurikulum Cinta dalam mata pelajaran berarti memasukkan nilai-nilai cinta, kasih sayang, dan toleransi ke dalam materi pembelajaran di berbagai mata pelajaran, bukan sebagai mata pelajaran baru. Ini bertujuan untuk membentuk generasi yang berjiwa humanis, peduli, dan bertanggung jawab. 

Deep learning, sebagai pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam dan aplikasi konsep, berpotensi besar dikombinasikan dengan Kurikulum Cinta untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kurikulum Cinta, dengan fokus pada pengembangan kasih, empati, dan kepedulian sosial, dapat melengkapi deep learning yang berfokus pada pengembangan intelektual dan keterampilan. 

Pendekatan deep learning  merupakan Pembelajaran yang Berkesadaran, Bermakna, dan Menyenangkan.  Mengajak siswa untuk menyadari cara belajar mereka dan memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi konsep-konsep baru (Mindful Learning). Mengaitkan pembelajaran dengan konteks yang relevan dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna (Meaningful Learning). Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan positif. (Joyful Learning).

Deep learning mendorong siswa untuk berpikir secara analitis, menghubungkan konsep dengan pengalaman nyata, dan memahami materi secara mendalam, bukan hanya menghafal.  Kurikulum Cinta sebagai Pengembangan Karakter. Kurikulum Cinta menekankan pada pengembangan karakter, seperti kasih sayang, empati, dan kepedulian sosial. Kurikulum ini bertujuan untuk membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki hati yang baik dan peduli terhadap sesama.  Kombinasi yang Sinergis. Kombinasi antara deep learning dan Kurikulum Cinta dapat menciptakan pendidikan yang lebih holistik, di mana siswa tidak hanya mengembangkan keterampilan kognitif, tetapi juga karakter dan nilai-nilai positif. 

Integrasi Kurikulum Cinta dan Deep Learning

Strategi Implementasi  integrasi kurikulum cinta dan deep learning dengan mengintegrasikan nilai dalam mata Pelajaran. Guru perlu mengintegrasikan nilai-nilai cinta, kasih sayang, toleransi, dan kebangsaan (Hubbul Wathan) dalam materi pembelajaran setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran perlu dirancang secara eksplisit untuk mengintegrasikan nilai-nilai tersebut, dengan memperhatikan keberagaman sosiokultural dan keagamaan. 

Integrasi Kurikulum Cinta dan Deep Learning diantaranya: Pertama,  Lesson Plan. Desain Holistik yang Mengintegrasikan Hati dan Pikiran. Lesson plan harus menjadi dokumen yang mindful, meaningful, dan joyful tiga prinsip Deep Learning yang digariskan oleh Kemendikbud. Perencanaan harus mencakup: 1) Tujuan pembelajaran afektif (Kurikulum Cinta): misalnya, siswa menunjukkan kasih kepada teman dalam kerja kelompok; 2) Aktivitas pembelajaran yang berpusat pada pemaknaan (Deep Learning): studi kasus, diskusi reflektif, atau project-based learning; 3) Integrasi nilai spiritual dan sosial dalam indikator keberhasilan: tidak hanya kognitif, tapi juga sikap dan tindakan nyata.

Kedua, Implementasi di Kelas: Dari Instruksi ke Inspirasi; Guru tidak lagi menjadi sekadar pemberi informasi, tetapi fasilitator makna. Implementasi bisa mencakup: 1) Dialog interaktif dan terbuka tentang pengalaman pribadi siswa terkait tema pembelajaran; 2) Pembelajaran berbasis masalah yang mengaitkan konsep akademik dengan nilai-nilai kasih dan tanggung jawab sosial; 3) Ruang ekspresi emosional dan spiritual dalam proses belajar seperti journaling atau presentasi reflektif.

Ketiga: Asesmen Holistik: Mengukur Pemahaman dan Ketulusan; Asesmen perlu bergeser dari sekadar tes hafalan menuju: 1) Portofolio proyek sosial: misalnya kampanye lingkungan berbasis cinta terhadap alam; 3) Rubrik reflektif untuk menilai pemahaman mendalam dan aplikasi nilai kasih dalam kehidupan sehari-hari; 4) Umpan balik kolektif dari teman sebaya dan guru untuk memperkuat empati dan kesadaran sosial.

Keempat, Penguatan Ekosistem madrasah.  Budaya Cinta dan Intelektualitas; Madrasahharus menjadi living lab yang menumbuhkan nilai cinta dan pembelajaran mendalam. Ini bisa dilakukan dengan: 1) Program mentoring lintas jenjang sebagai wadah saling mencintai dan belajar; 2) Ruang aman untuk keberagaman keyakinan dan pemikiran, memperkuat harmoni antar siswa; 3) Perayaan nilai, bukan hanya nilai angka, melalui penghargaan untuk siswa paling peduli, paling reflektif, atau paling kolaboratif.

Kelima, Transformasi Peran siswa dan Guru. Kurikulum interdisipliner berbasis pengabdian yang menyentuh langsung masyarakat; 2) Guru sebagai inspirator, bukan sekadar evaluator.  Kelas menjadi komunitas belajar, bukan ruang pengajaran searah.

            Dalam mata Pelajaran agama. Mengintegrasikan nilai kasih sayang, toleransi, dan kepedulian dalam ajaran agama. pendekatan Deep learning dapat digunakan untuk memahami ajaran agama secara mendalam, mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, dan mengembangkan rasa kasih sayang terhadap sesama umat beragama. 

            Mata Pelajaran Bahasa. Membaca teks atau cerita yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi.  Siswa mampu memahami nuansa bahasa, memahami budaya melalui teks, dan mengembangkan empati terhadap berbagai perspektif.

            Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Mengembangkan rasa cinta tanah air dan bangga terhadap budaya Indonesia.

            Mata Pelajaran Sejarah. Mempelajari tokoh-tokoh yang berjuang untuk kemanusiaan dan keadilan. Deep learning dapat digunakan untuk menganalisis sumber-sumber sejarah, memahami konteks peristiwa, dan menghubungkannya dengan nilai-nilai yang relevan (misalnya, empati terhadap korban perang). 

Mata Pelajaran IPA. Materi IPA yang terkait dengan cinta lingkungan mencakup pemahaman tentang sistem ekosistem, dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan, serta cara melestarikan lingkungan. Hal ini meliputi konsep-konsep seperti interaksi antar makhluk hidup, rantai makanan, daur ulang, dan dampak perubahan iklim.  Menjelaskan pentingnya menjaga lingkungan dan kelestarian alam. 

 

implementasi  kurikulum cinta dan deep learning dalam pembelajaran

Implementasi deep learning  dalam pembelajaran melalui: Pertama, Pembelajaran Berbasis Proyek. Siswa terlibat dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proyek yang relevan dengan materi pelajaran.  Ini memungkinkan siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam konteks yang nyata dan mengembangkan keterampilan praktis. 

Kedua, Pembelajaran Berbasis Permainan. Game edukatif dapat digunakan untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan interaktif. Siswa dapat belajar sambil bermain, meningkatkan motivasi dan keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran. 

Ketiga, Pemanfaatan Teknologi Digital. Integrasi teknologi digital, seperti platform pembelajaran adaptif, chatbot, dan aplikasi pembelajaran, dapat memberikan pengalaman belajar yang personal dan interaktif. Platform pembelajaran adaptif dapat menyesuaikan materi dan kecepatan belajar dengan kebutuhan individu siswa. Chatbot berbasis AI dapat memberikan bantuan awal dan dukungan konseling kepada siswa. 

Keempat, Pembelajaran Berbasis Masalah. Siswa diberi masalah nyata dan diminta untuk mencari solusi dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan mereka. Ini mendorong siswa untuk berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan mengembangkan kemampuan problem-solving. 

Kelima, Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa. Pembelajaran dirancang agar sesuai dengan gaya belajar, minat, dan kebutuhan individu siswa. Guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing, membantu siswa untuk belajar secara mandiri dan mengembangkan potensi mereka. 

Keenam, Pembelajaran Interdisipliner. Membantu siswa untuk menghubungkan berbagai disiplin ilmu dan memahami bagaimana pengetahuan dari satu bidang dapat diaplikasikan dalam bidang lainnya. Ini mendorong siswa untuk berpikir secara holistik dan mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang dunia di sekitar mereka. 

Dengan menerapkan pendekatan deep learning secara efektif, diharapkan siswa dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi pelajaran, mengembangkan keterampilan yang relevan, dan menjadi pembelajar yang mandiri dan berdaya.

      Kurikulum Cinta dan Deep Learning bukan sekadar jargon pendidikan. Keduanya adalah jalan menuju lahirnya manusia pembelajar seutuhnya yang berpikir tajam, bertindak bijak, dan mencintai sesama.             Integrasi Kurikulum Cinta dan Deep Learning adalah merupakan strategis atas kebutuhan pendidikan bermutu dan berdaya saing untuk masa depan Indonesia. Penerapan dalam lesson plan, implementasi, dan asesmen harus menekankan aspek kesadaran, makna, dan kegembiraan dalam belajar

 

 

 

Implementasi Ekoteologi di Madrasah

 

Implementasi  Ekoteologi di Madrasah

Oleh. Sugito, S.Pd

Kepala MIN 2 Gresik

 

        Kementerian Agama sebagai institusi pemerintah yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan di bidang agama memiliki peran strategis dalam membangun kehidupan beragama yang moderat, rukun, dan harmonis. Dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang efektif, transparan, dan berorientasi pada pelayanan publik, Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan arah kebijakan dan program prioritas yang terstruktur dan terukur.

      


Asta Protas (Delapan Program Prioritas) disusun sebagai pedoman strategis dalam mengoptimalkan kinerja organisasi, memperkuat reformasi birokrasi, serta meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat. Program ini menjadi landasan dalam merespons berbagai tantangan kehidupan beragama, pendidikan keagamaan, penyelenggaraan haji dan umrah, serta penguatan moderasi beragama di tengah masyarakat yang majemuk.

Asta Protas Kemenag adalah singkatan dari Delapan Program Prioritas Kementerian Agama, yaitu delapan agenda utama yang menjadi fokus kebijakan dan arah strategis Kementerian Agama Republik Indonesia dalam periode kepemimpinan Menteri Agama. Secara etimologis, kata asta berarti delapan, sedangkan protas merupakan kependekan dari program prioritas. Dengan demikian, Asta Protas merupakan kerangka kerja utama yang dirancang untuk meningkatkan kualitas layanan keagamaan, pendidikan keagamaan, serta penguatan moderasi beragama di Indonesia.


Asta protas Kementerian Agama Republik Indonesia diantaranya: meningkatkan kerukunan dan cinta kemanusiaan, penguatan ekoteologi, layanan keagamaan berdampak, mewujudkan Pendidikan unggul, ramah dan teritegraasi, pemberdayaan pesantren, pemberdayaan ekonomi umat, sukses haji dan digitalisasi tata Kelola. Program ini merupakan delapan agenda prioritas yang menjadi fokus kerja Kementerian Agama dalam mendukung pembangunan di bidang agama, pendidikan, dan kehidupan keagamaan di Indonesia.

Salah satu asto Protas Kementerian agama yaitu  penguatan ekoteologi Agama dan Kelestarian Lingkungan. Menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam pelestarian lingkungan, termasuk edukasi lingkungan berbasis agama, penanaman pohon, wakaf pohon oleh calon pengantin, serta penerapan konsep green building di lembaga keagamaan dan pendidikan.

Pengertian Ekoteologi

                Ekoteologi merupakan kajian teologi yang membahas hubungan antara ajaran agama dan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan hidup. Istilah ini berasal dari kata ekologi (ilmu tentang hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya) dan teologi (ilmu tentang ketuhanan). Ekoteologi menekankan bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari panggilan iman dan tanggung jawab spiritual manusia.

            Ekoteologi memandang bahwa krisis lingkungan bukan hanya persoalan ilmiah atau teknis, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Kerusakan alam dipahami sebagai akibat dari cara pandang dan perilaku manusia yang tidak selaras dengan nilai-nilai keagamaan, seperti keserakahan, eksploitasi berlebihan, dan kurangnya rasa tanggung jawab.

Krisis lingkungan global seperti perubahan iklim, pencemaran, deforestasi, dan kerusakan ekosistem menjadi tantangan besar bagi umat manusia. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada aspek ekologis, tetapi juga sosial, ekonomi, dan spiritual. Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, pendekatan keagamaan memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran dan tanggung jawab ekologis. Salah satu pendekatan yang relevan adalah ekoteologi.


Ekoteologi dalam perspektif Islam berakar pada ajaran Al-Qur’an dan Hadis yang menegaskan bahwa manusia adalah khalifah di bumi yang memiliki amanah untuk menjaga dan merawat alam. Prinsip keseimbangan (mizan), larangan berbuat kerusakan (fasad), serta ajaran tentang tanggung jawab moral terhadap lingkungan menjadi landasan teologis yang kuat untuk membangun etika ekologis. Nilai-nilai ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter dan akhlak mulia.

Sebagai lembaga pendidikan Islam formal di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia, madrasah memiliki posisi strategis dalam menanamkan nilai-nilai ekoteologi sejak dini. Kurikulum madrasah yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum memberikan peluang integrasi antara ajaran tauhid dengan kesadaran ekologis. Dengan demikian, pendidikan di madrasah tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan generasi yang memiliki tanggung jawab spiritual dan ekologis.

Namun, dalam praktiknya, integrasi nilai-nilai ekoteologi di madrasah masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan pemahaman guru tentang konsep ekoteologi, kurangnya penguatan kurikulum berbasis lingkungan, serta minimnya budaya sekolah yang ramah lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan upaya sistematis untuk mengintegrasikan nilai-nilai teologis dengan praktik nyata pelestarian lingkungan di lingkungan madrasah.

Pengembangan ekoteologi di madrasah menjadi penting sebagai bentuk aktualisasi ajaran Islam dalam merespons krisis lingkungan. Madrasah diharapkan mampu menjadi pionir dalam membangun kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai keislaman, sehingga tercipta generasi yang tidak hanya beriman dan berilmu, tetapi juga berwawasan lingkungan dan berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan bumi.

 

Implementasi Ekoteologi di Madrasah

Implementasi ekoteologi di madrasah merupakan upaya mengintegrasikan nilai-nilai teologis Islam dengan praktik nyata pelestarian lingkungan dalam seluruh aspek pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan Islam di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia, madrasah memiliki potensi besar untuk membangun kesadaran ekologis berbasis ajaran agama.

            Implementasi integrasi  ekoteologi di madrasah dapat dilakukan melalui: Pertama, Integrasi dalam kurikulum dan pembelajaran. Ekoteologi dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran agama maupun umum, Ekoteologi diintegrasikan mata Pelajaran Al Qu’an dan hadist diantaranya : mengkaji ayat-ayat tentang khalifah, Amanah, dan larangan berbuat merusak di bumi.Manusia diberi amanah untuk menjaga, merawat, dan mengelola bumi, bukan merusaknya.

            Ekoteologi diintegrasikan mata Pelajaran Aqidah Akhlak diantaranya: Ekoteologi dalam konteks Aqidah Akhlak menekankan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar tindakan sosial, tetapi merupakan konsekuensi keimanan kepada Allah SWT. Alam adalah ciptaan Allah yang harus dijaga sebagai bentuk penghambaan dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah. Implementasi ekoteologi dengan mata Pelajaran Aqidah Akhlaq yaitu Mengaitkan kebesaran Allah dengan keteraturan ekosistem, tadabbur alam sebagai penguatan iman. Integrasi ekoteologi dalam mata pelajaran Aqidah Akhlak memperkuat bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman dan cerminan akhlak mulia.

            Ekoteologi diintegrasikan mata Pelajaran Fiqih. Integrasi ekoteologi dalam mata pelajaran Fiqih menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tindakan sosial, tetapi juga kewajiban hukum dalam Islam. Intergrasi ekoteologi dengan mata Pelajaran Fiqih diantaranya Menjaga kebersihan kelas, halaman, dan kamar mandi madrasah sebagai implementasi fiqih, tidak membuang sampah sembarangan karena dapat menyebabkan najis dan mudarat, pengelolaan limbah sebagai bagian dari menjaga kesucian lingkungan. Hemat air wudhu dan mandi, penggunaan Listrik dan sumber daya secara baik, membiasakan gaya hidup sederhana sebagai bentuk ketaatan. Madrasah mampu membentuk generasi yang taat beragama sekaligus peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.

            Ekoteologi diintegrasikan den mata Pelajaran IPA. Ekoteologi dalam IPA menekankan bahwa kajian ilmiah tentang alam tidak hanya dipahami secara rasional dan empiris, tetapi juga sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Sains dan iman berjalan selaras dalam membangun kesadaran ekologis. Intergrasi ekoteologi dengan mata Pelajaran IPA  diantaranya Eksploitasi berlebihan bertentangan dengan prinsip keseimbangan (mizan), gaya hidup ramah lingkungan sebagai bentuk ibadah sosial, menjaga kebersihan udara dan air merupakan bentuk tanggung jawab moral dan spiritual

            Ekoteologi diintegrasikan den mata Pelajaran IPS. Ekoteologi dalam IPS menekankan hubungan antara manusia, masyarakat, ekonomi, dan lingkungan dalam perspektif tanggung jawab sosial dan keagamaan. Intergrasi ekoteologi dengan mata Pelajaran IPS  diantaranya Lingkungan bukan sekadar objek eksploitasi, tetapi Amanah, produksi harus memperhatikan prinsip halal dan thayyib, konsumsi tidak boleh berlebihan, pembangunan tidak boleh merusak generasi mendatang, Kerusakan lingkungan berdampak sosial (banjir, kemiskinan, konflik).

            Kedua, Pembiasaan dan Budaya Madrasah Ramah Lingkungan. Madrasah ramah lingkungan, pembiasaan berarti melatih warga madrasah untuk melakukan tindakan peduli lingkungan secara rutin hingga menjadi kebiasaan yang sadar dan bertanggung jawab. Pembiasaan tidak hanya bersifat instruktif, tetapi juga melalui keteladanan guru, aturan madrasah, dan praktik langsung.

Nilai ekoteologi perlu diwujudkan dalam budaya sehari-hari di madrasah, seperti: Gerakan hemat air dan listrik sebagai bentuk tanggung jawab moral, Program Jumat Bersih atau kerja bakti rutin, Pemilahan sampah organik dan anorganik, Penanaman pohon dan pembuatan taman madrasah. Program ini dapat disinergikan dengan kebijakan madrasah adiwiyata yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia sehingga memiliki arah dan standar yang jelas.

Ketiga, Keteladanan Guru dan Tenaga Kependidikan. Guru berperan sebagai teladan dalam penerapan nilai ekoteologi. Keteladanan tersebut dapat berupa: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengajak siswa menjaga kebersihan kelas, mengaitkan isu lingkungan dengan nilai keislaman dalam setiap kesempatan pembelajaran. Keteladanan akan memperkuat internalisasi nilai karena siswa melihat praktik nyata, bukan hanya teori.

Keteladanan guru dan tenaga kependidikan dalam ekoteologi merupakan wujud nyata tanggung jawab moral dan spiritual dalam merawat ciptaan Tuhan. Dalam konteks pendidikan, guru dan tenaga kependidikan tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan dalam membangun kesadaran ekologis yang berlandaskan nilai-nilai iman. Sikap, perkataan, dan tindakan mereka menjadi contoh konkret bagi peserta didik dalam menerapkan kepedulian terhadap lingkungan.

Keempat. Kegiatan Ekstrakurikuler Berbasis Lingkungan. Kegiatan Ekstrakurikuler Berbasis Lingkungan merupakan program pengembangan diri yang bertujuan menumbuhkan kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab peserta didik terhadap kelestarian lingkungan hidup. Kegiatan ini dirancang untuk membentuk karakter siswa yang peduli, kreatif, serta berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan alam di lingkungan madrasah maupun masyarakat. Kegiatan Ekstrakurikuler Berbasis Lingkungan diantaranya : Klub pecinta alam atau komunitas “Green Madrasah”, Program bank sampah siswa, Proyek kebun madrasah atau hidroponik. Kampanye lingkungan berbasis dakwah kreatif (poster, video, atau ceramah tematik), Gerakan jum’at bersih. Penanaman dan Perawatan Tanaman (Green School Project), Pembuatan Kompos Organik,

            Kelima, Kolaborasi dengan orang tua dan msayarakat. Kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat dalam ekoteologi merupakan upaya bersama untuk menanamkan kesadaran bahwa menjaga dan merawat lingkungan hidup adalah bagian dari tanggung jawab iman. Ekoteologi memandang alam sebagai ciptaan Tuhan yang harus dipelihara dengan penuh tanggung jawab, kasih, dan rasa syukur. Oleh karena itu, pendidikan tentang kepedulian lingkungan tidak hanya dilakukan di madrasah, tetapi juga perlu didukung dan diterapkan dalam keluarga serta lingkungan masyarakat.

            Melalui kerja sama ini, orang tua berperan sebagai teladan utama dalam membiasakan perilaku ramah lingkungan di rumah, seperti menghemat energi, mengelola sampah, dan menanam tanaman. Sementara itu, masyarakat mendukung dengan menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan melalui kegiatan bersama seperti kerja bakti, penghijauan, dan kampanye peduli lingkungan.

            Keenam, Penguatan spiritualitas lingkungan. Penguatan spiritualitas lingkungan adalah proses membangun kesadaran batin bahwa alam bukan sekadar tempat tinggal manusia, tetapi bagian dari ciptaan Tuhan yang memiliki nilai dan makna spiritual. Spiritualitas lingkungan menekankan hubungan yang harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam semesta. Dalam perspektif iman, manusia dipanggil bukan untuk mengeksploitasi, melainkan untuk merawat dan menjaga bumi sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual. Ekoteologi melalui penguatan spiritualitas lingkungan diantaranya: doa Bersama untuk kelestarian alam, Khutbah atau kultum  bertema lingkungan, Refleksi keagamaan tentang bencana alam sebagai pengingat tanggung jawab manusia. Pendekatan ini membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari pengamalan iman.

            Implementasi ekoteologi di madrasah merupakan langkah strategis dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui pendekatan ini, peserta didik tidak hanya memahami ajaran agama secara normatif, tetapi juga mengaktualisasikannya dalam bentuk tanggung jawab ekologis sebagai khalifah di bumi. Konsep-konsep seperti amanah, khalifah, dan rahmatan lil ‘alamin menjadi landasan teologis dalam membangun kesadaran lingkungan yang berkelanjutan.

            Penerapan ekoteologi di madrasah dapat diwujudkan melalui integrasi materi lingkungan dalam kurikulum, pembiasaan perilaku ramah lingkungan, pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle), penghijauan madrasah, serta program hemat energi dan air. Selain itu, keteladanan guru dan kebijakan institusi sangat berperan dalam membentuk budaya madrasah yang peduli lingkungan.

            Implementasi ekoteologi tidak hanya memperkuat karakter religius peserta didik, tetapi juga membentuk generasi yang beretika lingkungan, berwawasan keberlanjutan, dan mampu berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab spiritual.

Ekoteologi di madrasah merupakan perwujudan ajaran Islam tentang tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi dalam bentuk kegiatan nyata di lingkungan pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan Islam di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia, madrasah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter ekologis peserta didik.

Implementasi ekoteologi di madrasah bukan hanya program sesaat, tetapi proses pembentukan karakter peserta didik agar memiliki kesadaran spiritual dan tanggung jawab ekologis. Dengan sinergi antara kurikulum, keteladanan, pembiasaan, dan kerja sama seluruh warga madrasah, nilai-nilai menjaga ciptaan dapat menjadi budaya yang hidup dalam keseharian.